michaelsonmelrose.com – Pakar hukum adat mendukung penuh keputusan Gubernur Bali Wayan Koster untuk menolak pembangunan kasino di Pulau Dewata, salah satunya datang dari Prof. Dr. I Made Suwitra, Guru Besar Hukum Adat di Fakultas Hukum Universitas Warmadewa, Denpasar. Ia menyebut langkah Koster sebagai kebijakan yang tepat dan visioner, sejalan dengan konsep pembangunan Bali yang berbasis budaya lokal.
“Baca juga : Honor Anggota Paskibraka Nasional hingga Kabupaten 2025”
Ia menilai kehadiran kasino akan merusak koherensi pembangunan pariwisata budaya yang telah menjadi identitas Bali di mata dunia. “Langkah Gubernur menolak kasino sangat tepat. Ini menjaga kesinambungan antara pariwisata dan budaya Bali yang religius,” ujar Suwitra, Minggu (17/8/2025).
Menurutnya, jika pembangunan dilakukan tanpa mempertimbangkan budaya dan norma hukum adat, maka pariwisata di Bali berisiko bergeser ke arah sekuler dan kehilangan makna spiritual.
Ia menyoroti bahwa Bali sejak era “Balisering” pada 1920-an telah dibentuk sebagai destinasi berbasis budaya Hindu, yang membedakannya dari wilayah pariwisata lain di dunia. Lebih lanjut, Prof. Suwitra mengingatkan bahwa keberadaan kasino bisa berdampak sosial negatif, termasuk meningkatnya potensi kriminalitas.
Ia mengatakan, negara harus hadir tidak hanya sebagai pembuat regulasi, tetapi juga sebagai pelaksana perlindungan terhadap nilai-nilai budaya lokal.
Penolakan pembangunan kasino oleh Gubernur Bali Wayan Koster menjadi sorotan publik dan akademisi. Kebijakan ini dinilai sebagai langkah penting untuk menjaga identitas budaya Bali yang kental dengan nilai-nilai religius dan adat. Pakar hukum adat menilai, kebijakan ini sejalan dengan visi pembangunan Bali berbasis kebudayaan lokal yang berkelanjutan.
“Baca juga : China Meluncurkan SSD Mini Baru, Ukurannya Seperti Kartu SIM”
Sebagai penutup, Pakar hukum menegaskan bahwa membangun kasino tidak relevan dan tidak koheren dengan visi pembangunan Bali yang berbasis budaya. Pemerintah daerah dan pusat, katanya, harus konsisten menjaga karakter Bali agar tetap menjadi ikon pariwisata budaya yang berkelanjutan dan beretika.




Leave a Reply