michaelsonmelrose.com – Investasi tas dari platform jual-beli barang mewah bekas Rebag menyebutkan bahwa nilai jual kembali tas dari merek-merek seperti Hermès, Chanel, Louis Vuitton, dan Goyard mengalami peningkatan signifikan. “Tren ini menandakan peluang investasi yang menarik di seluruh merek papan atas dan merek yang lebih terjangkau,” tulis Rebag dalam laporannya.
“Baca juga : Saham Blue Chip Naik Usai Diborong JP Morgan dan Vanguard”
Tas umumnya dikenal sebagai barang konsumsi yang nilainya menurun seiring waktu, terutama setelah digunakan. Namun, sejumlah tas mewah dari rumah mode papan atas justru menunjukkan performa harga yang stabil bahkan meningkat. Hal ini mendorong banyak pihak untuk melihat tas-tas tersebut bukan hanya sebagai barang fesyen, tetapi juga sebagai aset bernilai tinggi.
Tas-tas tersebut juga terbukti menjadi pelindung nilai terhadap inflasi. Studi Credit Suisse tahun 2022 mengidentifikasi tas mewah sebagai aset alternatif yang bisa menjaga nilai selama ketidakpastian ekonomi. Namun, tidak semua tas mengalami kenaikan nilai. Hanya model tertentu, seperti Hermès Birkin, yang konsisten mempertahankan nilai pasar bahkan meningkat tajam dari tahun ke tahun.
Menurut data dari situs Baghunter, tas Birkin mencatat rata-rata kenaikan nilai sebesar 14,2% per tahun dalam periode 1980 hingga 2015. Harga jual awal tas Birkin mulai dari US$9.000, tetapi dalam kondisi tertentu bisa mencapai lebih dari US$30.000 di pasar sekunder, tergantung pada ukuran, warna, dan kelangkaan.
Nilai Tas Mewah Seperti Birkin Kian Naik, Benarkah Lebih Cuan dari Saham?
Sebagai perbandingan, indeks saham S&P 500 mencatat rata-rata imbal hasil tahunan sekitar 10%, namun dengan risiko fluktuasi yang lebih tinggi. Artinya, tas mewah tertentu secara historis mampu menyaingi bahkan melampaui keuntungan dari investasi pasar saham, setidaknya dalam jangka panjang.
Meski begitu, sejumlah ahli menekankan agar tidak langsung menyamakan tas mewah dengan instrumen investasi formal. Carolyn McClanahan, perencana keuangan dan pendiri Life Planning Partners, menyebut menyamakan pembelian tas dengan investasi bisa menyesatkan. “Saya sangat mendukung orang-orang membeli barang-barang bagus, tapi saya tidak akan menyebutnya sebagai investasi,” kata McClanahan. Ia menyarankan menyebutnya sebagai “pembelian cerdas” jika memang akan digunakan dalam jangka panjang.
“Baca juga : Film Superman Baru Tuai Pujian, Terbaik Sejak Reeve”
Pada akhirnya, tas mewah seperti Birkin mungkin bukan pengganti saham atau real estat sebagai aset investasi. Namun, dalam konteks tertentu—khususnya bagi kolektor atau pecinta fesyen—tas mewah bisa menjadi bentuk diversifikasi portofolio non-tradisional yang menarik. Kombinasi nilai estetika, kelangkaan, dan stabilitas harga menjadi keunggulan tersendiri dalam pasar barang mewah.




Leave a Reply